Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Garis Dua: Perjuangan Kehamilan Keduaku


Membeku.

Itulah reaksi pertama ketika melihat hasil test pack yang muncul.

Berjarak 10 Tahun 

Aito, anak pertama di keluarga kami lahir pada tahun 2012.

Saat itu rasanya bahagia karena memang sangat diharapkan oleh semua pihak. Pak suami yang menginginkan anak lelaki sebagai anak pertama juga senang sekali. Meski Aito lahir dengan bobot yang terbilang mungil tapi syukurlah ia sehat, lengkap dan tak kurang suatu apapun.

Setelah melahirkan, tenaga kesehatan menyarankan saya untuk mempertimbangkan menggunakan alat kontrasepsi. Tentu saja saya tahu tujuannya baik agar anak pertama kami tidak kesundulen dan mendapat ASI serta kasih sayang yang mencukupi. Saya yang sedari awal menikah tidak mau menggunakan KB ya menolak, hehehe.

Ada yang bilang bahwa di masa muda sekalian saja punya anak berapa biji ((memangnya jambu)) dengan jarak berdekatan. Maksudnya ya biar repot sekalian, tapi nanti kalau sudah besar kan repotnya berkurang. Tapi saya menyerahkan saja semua pada Allah Swt, kalau memang mau dititipi anak dalam jarak dekat oke-oke saja.

Qodarullah yang terjadi justru sebaliknya. Anak kedua yang dalam hati saya idamkan belum juga nampak tanda-tandanya bahkan hingga Aito nyaris berusia 10 tahun.

Ketika Akhirnya Garis Dua 

Di minggu kedua bulan puasa tahun 2022, suami mengajak kami piknik ke pantai Klayar. Karena merasa sudah waktunya haid, sebelum sampai di tujuan saya membeli pembalut daripada di sana kerepotan mencari warung.

Kemudian selama di Klayar kami bertiga menikmati waktu bermain pasir dan menjelajah garis pantai dari ujung ke ujung. Waktu itu saya ingat, meskipun berpuasa tapi ngga ada rasa lapar dan lemas seperti orang puasa pada umumnya. Justru yang paling saya rasakan adalah seringkali mengantuk.

Lalu puasa tinggal beberapa hari lagi saya pun mulai bertanya-tanya kenapa menstruasi tak kunjung datang. Badan sudah menunjukkan tanda-tanda pegal tak karuan dan kepala pusing. Saat itu saya ingin minum obat paracetamol tapi hati kecil seperti bilang "bagaimana kalau hamil, jangan minum obat sesukanya dong, cek dulu sana".

Testpack seharga tiga ribu rupiah pun saya beli di apotik terdekat. Saat sudah direndam sesaat dalam urin, alat yang terbuat dari kertas itu pun saya letakkan sebentar. Selang beberapa detik saya cek hasilnya.

GARIS DUA.

Nyaris tak percaya. Karena bukan kali itu saja saya membeli testpack dan mencoba menggunakannya. Bahkan setiap terlambat datang bulan selalu saja harap-harap cemas tapi hasilnya selalu garis satu.

Saking tidak percaya dengan hasil alat uji kehamilan berharga murah, saya pun meminta suami membelikan alat yang lebih mahal. Tapi ya ga mahal-mahal amat sih. Kalau ngga salah sekitar 20 ribuan, besoknya saya coba lagi tuh. Dan ternyata hasilnya sama. Alhamdulillah beneran positif.
test pack merek Directtest


Perjuangan Sebelum Hamil

Selang waktu kehamilan yang cukup lama sempat membuat saya pesimis. Semakin pesimis karena usia semakin bertambah dan faktor-faktor lain yang menjadikan kami, eh saya ding yang terbersit ingin adopsi saja.
bunga telang
bunga telang hasil kebun mini di depan rumah

Bukannya tidak pernah berusaha kok. Tentunya kami juga sempat mencoba beberapa cara untuk hamil anak kedua. Beberapa upaya kami lakukan seperti konsumsi buah zuriat dan kurma muda yang dipercaya dapat menyuburkan kandungan juga sudah. Oiya ramuan detox rahim jsr, seduhan bunga telang setiap pagi, bawang putih tinggal fermentasi pun dicoba.

Dan selain doa yang kami panjatkan tentunya ada pula ikhtiar-ikhtiar lain. Promil ke dokter langganan kami yang berpraktek di Ungaran pun sempat kami jalankan. Kebetulan ketika awal pandemi promil sempat off terkendala biaya dan ketika ingin memulai kembali justru ada kabar duka yakni dokter tersebut meninggal setelah terpapar covid-19. Sedihnya bukan main saat itu.

Selepas itu, suami mencoba mencari dokter lain dengan jadwal praktek yang cocok namun keinginan konsultasi tertunda karena kami sekeluarga terinfeksi corona. Hufft.

Hingga akhirnya saya merasa agak malas untuk promil ke dokter, di titik itulah saya hanya berusaha hidup lebih sehat dengan target menurunkan berat badan dan tidak sering begadang. 

Entah dapat wangsit darimana, pokoknya saya merasa gaya hidup hobi melek hingga malam dan berat badan saya lah yang menyebabkan gangguan kesuburan. Catat ya ini hanya perasaan saya saja tanpa diagnosa dokter.

Berbekal dari sadar diri itulah saya mengurangi konsumsi gula dan lebih banyak makan sayur, buah serta makanan asli (sebelumnya cukup sering makan fast food). Beberapa dana juga saya alokasikan ke stok makanan sehat dan protein shake. Target saya sebetulnya waktu itu untuk mendapat berat badan ideal yang sesuai dengan tinggi badan, jadi butuh turun BB sekitar 8-10 kilogram. 

Ada deh tuh 2 bulan saya mencoba intens menyesuaikan kebiasaan makan sehat yang ternyata sangat sulit. Jam tidur yang biasanya selalu lewat jam 12 malam pun saya ubah ke maksimal jam 10 harus sudah merem. Tapi tak lama kemudian agak mudah karena memasuki bulan ramadan, asik bisa puasa sekalian diet. Tidur agak gasik pun supaya mudah bangun sahur. 

Di bulan puasa, ketika berat badan saya mulai turun melewati 3 kilogram saya pun semakin bersemangat untuk menambah olahraga meski hanya bermodalkan video-video senam di Youtube.

Dan seperti yang sudah diceritakan di atas, menjelang akhir bulan puasa, eh malah hamil, hahaha, ya alhamdulillah, tapi semangat menurunkan berat badan pun terhenti. Semangatnya diganti menyehatkan badan supaya janin bisa berkembang dengan sehat dong.

Allah memang tahu waktu terbaik memberi atau menitipkan rezeki pada manusia dan kehamilan ini kami anggap datang di waktu yang pas, meski jarak antara anak pertama dan kedua ini nantinya cukup jauh. Aito yang sudah duduk di kelas 4 SD pun sangat senang ketika tahu ia akan mempunyai adik yang lama ia inginkan.

Alhamdulillah...alhamdulillah wa syukurilah.

Terima kasih pula kepada orang-orang di sekitar kami yang selalu memberi semangat, saran, nasehat dan resep-resep promil. Terkadang saat drop mereka lah yang menguatkan saya untuk tetap optimis. 

Lemah teles gusti Allah yang bales kebaikan kalian ya teman 😘. 

1 comment for "Kisah Garis Dua: Perjuangan Kehamilan Keduaku"

  1. Anak saya udah 3 perempuan semua dan yg mau lahir juga nih.. Perkiraan bulan oktober ini.

    ReplyDelete