Wanita Depan Rumah


Bulan depan mamah mengisyarakatkan pindah rumah. Kebetulan kontrakan kami memang sudah habis dan pemilik rumah meminta kenaikan yang tidak bisa mamah sanggupi. Terpaksalah kami pergi walaupun aku sendiri sangat betah tinggal di lingkungan ini. Tetangga-tetanggaku cukup baik hati dan rukun. Bahkan setiap bulan selalu ada rujakan atau ngelotek bersama, walaupun setiap acara itu mamah akan selalu kewalahan menjawab kekepoan warga tentang kejombloanku.

"Mah, apa Pak Sodik ga bisa dibujuk lagi supaya ga naikin harga sewa rumah ini", tanyaku pada mamah yang sedang menyetrika segunung pakaian. Pakaian itu bukan milik kami, tapi kepunyaan anak kos di Kost milik Pak Sodik juga. Untuk menambah pemasukan, memang mamah tak sungkan membuka jasa laundry ala kadarnya.

Sambil menghela napas mamah menjawab, "sudah berulang kali mamah bertanya dan minta keringanan tapi Pak Sodik kekeuh Nan".

Kepala mamah mendongak sambil seperti mengingat sesuatu. "Kata bu Rita, sepertinya Pak Sodik mau jadikan rumah ini minimarket. Kamu ga tahu kalau warung sebelah juga sudah dibeli Pak Sodik?"

Warung yang dimaksud mamah adalah warung nasi persis di sebelah kontrakan kami. Memang tidak begitu ramai karena citarasanya kurang konsisten dan sepertinya ibu pemilik warung menyiratkan ingin kembali ke desanya selepas suaminya ketahuan punya istri lagi. Kasihan, padahal istrinya cantik dan mereka berdua sudah dikaruniai 3 anak yang kini beranjak dewasa.

Usai mendengar jawaban mamah, aku hanya bisa terdiam. Apalagi juga tidak bisa membantu apapun. Hari ini aku baru saja mulai bekerja di sebuah perusahaan F&B. Jadi belum ada gaji yang bisa kuberikan ke mamah untuk mempertahankan rumah kontrakan kami. Kiriman kakakku yang bekerja di Sumatera juga belum ditransfer.
--
Perusahaan tempatku bekerja tidak jauh dari rumah. Ternyata sebelum memulai pekerjaan mereka punya kebiasaan berdoa bersama dan briefing pagi.

"Hari ini kita punya anggota keluarga baru yang akan membantu di bagian administrasi. Ayo Kinan, silahkan perkenalkan diri", Pak Ari manajer baru-ku mempersilahkan aku untuk berbicara.

Ku tatap manajer tampan itu, ingin rasanya tidak berkedip, tapi untunglah aku segera sadar harus memperkenalkan diri. "Ngg...selamat pagi teman-teman semua. Perkenalkan nama saya Kinanti. Usia saya sekarang 22 tahun. Saya baru lulus dari perguruan tinggi negeri. Sekarang ini saya tinggal di Cempaka Mas tapi sebentar lagi pindah ke Melati Baru dan mulai hari ini karena saya dipercaya menjadi bagian dari tim administrasi, saya harap teman-teman menerima saya dengan baik. Terima kasih."

"Terima kasih Kinan. Tenang saja kalau kamu tidak diterima nanti mereka saya jewer satu-satu. Ayo, ada yang mau bertanya ngga nih sama Kinan", Pak Ari menimpali perkenalanku sambil setengah guyon. Dan para karyawan pun tersenyum. Suasana yang kekeluargaan membuat teman-teman baruku mengajukan pertanyaan aneh-aneh seperti berapa nomor sepatuku, apa zodiakku dan tidak ketinggalan apakah aku sudah punya pacar.

Tapi hari itu, hari pertama aku bekerja semua lancar. Selama sebulan kemudian aku masih betah meski beberapa kali sudah harus lembur. Ya ga masalah lah kalau manajernya bisa disawang.

"Pak, boleh ngga besok saya ijin pulang lebih awal 2 jam", aku berhati-hati meminta ijin pada manajerku di ruangannya.

Pak Ari yang sedang membaca sesuatu di ponsel pintarnya menjawab tanpa melihatku, "2 jam ya? Memang ada apa Kinan?"

"Saya harus bawa mamah saya ke dokter Pak. Seminggu lalu kami baru pindah rumah, dan mungkin karena kecapekan beberes, mamah saya hari ini demam."

Jari Pak Ari yang tadinya sibuk menggeser layar ponsel itu tiba-tiba berhenti, matanya kemudian menatapku, "kenapa harus besok?".

"Maksudnya kenapa ijinnya harus besok, kalau sakit ya bawa mamamu ke dokter hari ini saja."

Hampir saja aku mengira tidak diperbolehkan ijin pulang gasik, ternyata.... "Dokternya hari ini ga praktek Pak. Mamah saya terbiasa sama dokter itu. Kebetulan besok beliau buka praktek, jadi mamah mau berobat besok saja."
--
Keesokan harinya, di jam ijin yang sudah disepakati aku beberes dan bergegas pulang. Sampai pagar rumah aku bertemu tetangga depan. Seorang wanita paruh baya yang ku panggil Tante Santi. Meskipun usianya sudah mendekati kepala 5 tapi ia tetap saja cantik dan rapi. Ketika pagi hari aku berangkat kerja, seringnya ia baru pulang berbelanja.

Menurut penilaianku Tante Santi wanita yang baik. Suaminya seorang salesman farmasi sehingga sering pulang larut malam. Sepertinya mereka tetap harmonis walaupun terpaut usia 10 tahun. Malangnya mereka berdua belum dikarunia seorang buah hati.

Dan sore itu, saat tanganku baru saja meraih gerendel pintu.

"Eh, Kinan tumben pulang lebih awal ya. Ini sekalian bawa masuk untuk mamahmu. Tadi tante bikin bolu coklat", Tante Santi berkata sambil menjulurkan seloyang bolu coklat yang baunya sangat menggoda.

Bolu yang sepertinya belum lama matang itu hampir saja membuatku lupa diri, aku menatapnya dengan mata berbinar. "Ah iya terima kasih banyak tante. Kok tau sih mamah dan Kinan suka bolu coklat. Ini pasti langsung Kinan habiskan nanti malam."

Tante Santi tertawa renyah, poni rambutnya bergoyang-goyang, "tenang aja, nanti kalau kurang tante buatkan lagi."

Di dalam rumah, ku lihat mamah duduk di ruang tamu. Bolu dari tante Santi ku letakkan di meja makan kemudian ku hampiri mamah. Raut wajahnya terlihat sayu dan saat ku sentuh dahinya masih terasa panas.

"Mah, itu tadi dikasih bolu coklat sama tante Santi. Oiya, mamah sudah siap ke dokter Amrin? Kartu berobatnya sudah di dompet?"

"Udah Nan. Yuk berangkat. Kamu sudah pesan taksi onlinenya belum?"

"Belum, bentar aku pesan dulu."Ku rogoh hape yang biasanya ku masukkan saku celana. Hape itu tidak ada di sana!

"Lho, hapeku kok ga ada Mah." ku pastikan lagi tanganku mencari hingga ujung saku tapi hasilnya nihil. Pindah ke saku sebelah kiri dan belakang pun sama. Di tas ku obrak-abrik tidak ada. Tapi aku memang tak pernah meletakkan hape di dalam tas.

"Jatuh mungkin ngga Nan? Atau kamu kecopetan?"

"Kayaknya ngga mah... Tapi...." belum lagi usai kalimatku, ku dengar pagar depan seperti digoncang-goncang dan terdengar suara. Aku melangkah ke depan.

Di sana ada rupa yang aku kenal betul. Dialah manajerku.

"Lho Bapak kok bisa sampai sini?"

"Ya gara-gara kamu tho. Ini loh hape kamu ketinggalan di atas meja. Untungnya kamu update alamat rumah di file data karyawan, jadi sengaja saya antar ke rumah. Apalagi kamu harus antar mama kamu ke dokter kan, siapa tahu perlu hape untuk telpon atau apalah", Pak Ari berkata sambil menjulurkan handphone milikku.

Aku tersenyum sedikit malu-malu karena menyadari keteledoranku, "iya tadi tak kira jatuh di jalan, padahal harus pesan taksi online pakai hape ini. Hape mamah ga bisa untuk order taksol karena masih jadul".

"Jadi belum order taksol kan. Ya sudah ayo saya antar sekalian, mumpung sudah sampai sini".

-
Di dokter Amrin mamah diperiksa dan syukurlah tidak ada keluhan yang berbahaya. Dokter Amrin hanya meresepkan penurun panas dan vitamin.

Aku lega. Tapi yang membuatku perasaanku campur aduk adalah kejadian tadi. Karena hape tertinggal pak Ari jadi mengantarkan kami berobat. Meski hanya didrop dan ia kembali ke kantor tapi tetap saja hatiku jadi berbunga-bunga.

Kemudian setelah dari dokter dan mampir sebentar membeli makanan serta keperluan rumah, pukul 9.30 malam kami pulang ke rumah.

Ketika sampai rumah, ku lihat lampu ruang tamu tante Santi masih menyala. Pikirku tumben sekali ia menyalakan lampu di jam-jam segini. Biasanya ia mematikan lampu ruang tamu kalau suaminya belum pulang dan baru ia nyalakan kalau suaminya pulang saat tengah malam. Apa suaminya kali ini pulang lebih awal ya.

Prang!!!

"Diammmmmm!!!"

Aku dan mamah terkaget, Itu suara tante Santi. Nada suaranya terdengar marah dan putus asa. Kami pun saling berpandangan.

"Mah, tante Santi kenapa itu. Tumben-tumbenan marah. Marah sama siapa ya mah?"

Mataku berkeliling melihat rumah tante Santi. Di dalam pagar ku lihat motor lelaki. Sepertinya itu motor suaminya. Jadi benar suaminya sudah pulang.

"Mah, itu motor Om Agus udah pulang. Tapi kok kayaknya ada yang ga beres ya mah." Aku terus berusaha mencecar pertanyaan pada mamahku yang sebenarnya pun tak tahu jawabannya.

Selang suara sesuatu yang pecah, rumah tante Santi kembali hening. Kemudian terdengar isak tangis wanita paruh baya itu.

Mamah menepuk pundakku, "sudah yuk masuk rumah aja. Kayaknya lagi ada pertengkaran suami istri. Kita ga bisa apa-apa sekarang. Besok mamah aja yang tanya ke tante Santi".

-

Keesokan harinya, aku sudah hampir lupa perkara semalam. Yang ada di sebagian pikiranku adalah ingin menemui manajer gantengku dan berterima kasih pada bantuannya kemaren.

Setelah pamit mamah, aku melenggang keluar rumah. Di gang depan aku melihat tante Santi menuju arah rumahnya. Sambil menunduk terlihat mukanya suram dan sedih. Ia sama sekali tidak menyapaku seperti biasa.

Aku pun diam saja. Ku pikir tidak sopan menanyakan ribut-ribut semalam.

Di kantor aku bertemu manajer tampanku jadi seharian aku semangat bekerja.

Tiba-tiba pukul 4 sore hapeku berbunyi. Di ujung sana nomor mamah memanggil.

"Nan, nanti langsung pulang ke rumah ya, jangan mampir-mampir dulu. Ada berita penting"

"Berita apa sih mah. Ga biasa-biasanya berita penting. Kakak menikah ya?"

"Bukan. Duh gimana ya. Ya sudah mamah kasih tau sekarang ya."

"Yasudah sekarang aja, Kinan jadi makin penasaran,"

"Ini ada polisi dan ambulan di depan rumah kita. Tante Santi bunuh diri semalam."

"Apaaa?!" Aku berusaha mencerna informasi dari mamah. "Semalam jam berapa mah? Tapi tadi Kinan ketemu tante Santi kok."

"Katanya kemungkinan jam 1 malam. Semalam suaminya pulang tapi mereka bertengkar. Ini tetangga bilang suaminya sudah punya istri dan anak di luar kota. Tante Santi syok berat trus bunuh diri setelah suaminya pergi".

Kepalaku mendadak pening. Rasanya baru dihantam gada besar.

Lalu, siapa yang tadi kutemui di ujung gang? Apakah mungkin.......


Bersambung ke episode 2
Sepiring Berdua


10 Responses to "Wanita Depan Rumah"

  1. Hiyaaa sereem Mba, tatut sama Tante Santi... Trus kelanjutannya ama Pak Menejer piye....

    ReplyDelete
  2. Lhaah..kok bisa muncul pagi2.. eh..hehe.. Aku menantikan kisah dg pak manajer ganteng euy...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe tante santi mau belaja lupa kalo dah mati

      Delete
  3. Wealaahh... Trus ketemu tante Santi yang mana tuh pas pagi. Ngeriiyyy...

    ReplyDelete
  4. Nggak ngira jatuhnya horor. Kupikir mo ngedate ma si manager. Ternyata ada hantunya ... Ma tuk mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak ngira jatuhnya horor. Kupikir mo ngedate ma si manager. Ternyata ada hantunya ... Ma tuk mbak.

      Delete
  5. Untung bacanya pas siang hari huhuhu serem ah mbak, aku penakut hahaha

    ReplyDelete
  6. Kejam sekali suami Tante Santi huhu

    ReplyDelete
Terimakasih kunjungan dan komentarnya,
Mohon maaf yang memasukkan link hidup dihapus otomatis ya.
Salam Blogging!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel